Ketua PBNU: Jangan Benturkan Muhammadiyah dengan Polisi! | Tribrata News Kendal

Ketua PBNU: Jangan Benturkan Muhammadiyah dengan Polisi!

kompak-600x394

Tribratanews.com – “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Demikian terjemahan bagian ayat 32 Al-Qur’an Surat Al-Maidah yang dipetik aktivis Muhammadiyah Ma’mun Murod Al-Barbasy, sebagai bukti bahwa Islam menentang tindak terorisme, disampaikan saat diskusi bertajuk “Menyikapi Perkembangan Terorisme di Indonesia” di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, Kamis (07-04-2016).

Oleh karena itu, Ma’mun Murod menambahkan, Muhammadiyah sangat mendukung upaya Polri memberantas teroris. Sementara terkait desakan dilakukannya outopsi terhadap jenazah Siyono, terduga teroris yang meninggal dunia setelah diamankan Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88), ia menegaskan itu bukan bentuk dukungan Muhammadiyah kepada kelompok teroris, melainkan bagian dari rasa sayang Muhammadiyah kepada Polisi.

“Paling tidak, dengan outopsi ini maka ke depan Densus akan lebih hati-hati. Soal Siyono teroris atau bukan teroris, itu bukan urusan Muhammadiyah,” Ma’mun Murod menambahkan.

Ia kembali menegaskan bahwa Muhammadiyah mendukung pemberantasan terorisme yang diemban Polri, dengan catatan selama penanganannya sesuai koridor hukum dan tidak melanggar hak asasi manusia (HAM). Dengan demikian, Polri yang bertindak atas nama Negara, tidak menjadi teroris lain dalam memberantas teroris.

“Kami mengutuk keras setiap tindak terorisme, baik atas nama pribadi atau negara,” tegas Ma’mun Murod.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziyah PBNU Dr Marsudi Syuhud menjelaskan, ada pihak-pihak tertentu yang ingin membuat kegaduhan di Indonesia dengan jalan mengadu-domba beberbagai pihak. Caranya dengan menarik orang, kelompok, atau organisasi tertentu ke radikal kiri atau kanan. Bahkan hal itu ikut menimpa dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang terkenal sebagai organisasi moderat, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Marsudi Syuhud memberi contoh bagaimana media-media tertentu gencar menyebar tuduhan sebagai penganut aliran yang juga dituduh sesat atas Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA.

Bahkan yang terbaru, Marsudi Syuhud menambahkan, upaya Muhammadiyah dalam rangka mencari penjelasan (tabayyun) terkait meninggalnya terduga teroris Siyono, dibelokkan seolah-olah Muhammadiyah dibenturkan dengan Polisi.

Untuk itu ia mengingatkan, jangan sampai masyarakat terprovokasi lewat informasi-informasi yang menyesatkan. “Jangan sampai kita terprovokasi mereka yang sedang mencari pasukan, mencari teman,” imbau Marsudi Syuhud.

Ia berharap masyarakat mulai cerdas dalam menerima informasi, jangan dianggap benar semua, kalau bisa jika dapat berita bertanya langsung pada sumbernya.

“Kalau dapat informasi, segera tabayyun, jangan mau diadu-adu!” seru Marsudi Syuhud.

Kegiatan diskusi tersebut merupakan inisiatif Divisi Hubungan Masyarakat Polri yang dikepalai Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan. Tujuannya untuk mendengarkan pendapat para ahli terkait permasalahan terorisme. Adapun narasumber yang menghadiri kegiatan ini adalah Prof Dr Sabar Budi Santoso MSc, Dr H Anwar Fuadi, Dr Mirra Noor Milla MSi, Dr Marsudi Syuhud, dan Ma’mun Murod Al-Barbasy. [imf]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*